Sunday, April 27, 2014

Peribadi Kekasih Kita Iaitu Nabi Muhammad SAW

 Fizikal Nabi
 
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata:

Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.


Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.

Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.


Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.


Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pernah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.


Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)

Tidak Dapat Mencium Bau Syurga


Golongan yang tidak akan dapat mencium bau Syurga jika tidak sempat bertaubat :
1. Wanita yang meminta talak dari suaminya tanpa alasan (syar’ie).
2. Orang yg memutuskan silaturrahim.
3. Perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan.
4. Sesiapa yang mengubah nama ayah atau keturunannya dan mendakwa selain ayahnya yang sebenar.
5. Orang yang mewarnakan rambut mereka dengan warna hitam.
6. Orang yang derhaka kepada ibu bapa.
7. Orang yang Allah memberikannya kuasa pemerintahan, kemudian dia tidak memberikan nasihat (kepada rakyatnya).
8. Orang yang membunuh putera mahkota yang telah ditabalkan.
9. Orang yang membunuh kafir zimmi.


“Sesiapa membunuh kafir zimmi maka tidak akan mencium bauan syurga. Sesungguhnya bauan syurga itu boleh didapati sejauh perjalanan 40 tahun”. (HR Ahmad)

Nabi saw. bersabda, “Sesiapa membunuh putera mahkota yang telah ditabalkan, tidak akan mencium bau syurga. Sesungguhnnya bauan syurga itu boleh dicium sejauh perjalanan 40 tahun.” (HR Bukhari)

Nabi saw. bersabda, "Tiada seorang manusia yang Allah memberikannya kuasa pemerintahan, kemudian dia tidak memberikan nasihat (kepada rakyatnya), dia tidak akan dapat mencium bau syurga" (HR Bukhari dan Muslim )

“Akan ada satu kaum yang mewarnakan rambut mereka dengan warna hitam seperti hitam yang ada pada kebiasaan dada burung merpati (kerana menutup warna uban), mereka tidak akan mencium bau syurga.“ (HR Abu Daud)

“Sesiapa yang mengubah nama ayah atau keturunannya dan mendakwa selain ayahnya yang sebenar, tidak akan mencium bau syurga. Sesungguhnya bauan syurga itu boleh dicium sejauh perjalanan 500 tahun” (HR Ibnu Majah)

Nabi saw. bersabda, “Perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan, perempuan tersebut tidak akan masuk syurga, bahkan tidak akan mendapat mencium baunya, Sesungguhnya bau syurga itu boleh dibaui dari jarak sejauh perjalanan 500 tahun”. (HR Muslim)

“Mana-mana wanita yang meminta talak dari suaminya tanpa alasan (syar’ie) maka haram atasnya bauan syurga.” (HR Abu Daud)

“Bauan syurga dapat dihidu sejauh perjalanan 1000 tahun . Demi Allah, tidak akan merasainya, orang yang menderhaka kepada ibu bapa dan orang yang memutuskan silaturrahim.” (HR Tabrani)


Wallahu a'lam.


Link pilihan:

Kehebatan Syurga

Makna Silaturrahim

Golongan Yang Diharamkan Masuk Syurga

Jangan Buat Dosa

*

Satu daripada manifestasi iman yang penting ialah menjauhi dosa. Ia lambang kekukuhan iman.

"Jauhilah perbuatan haram niscaya kamu menjadi orang yang kuat beribadah." (HR. Abu Ya'la)

Dalam beribadah, meninggalkan dosa (manhiyyat) adalah amal yang paling utama.Inilah perkara yang amat ditekankan oleh ulama-ulama.

Suruhan agama lebih mudah dilakukan daripada meninggalkan laranganNya. Kita mudah lihat yang berpuasa tetapi masih bermaksiat. Bersolat tetapi rajin mengumpat atau tidak menutup aurat.

Nabi s.a.w. bersabda, "Orang yang sempurna Islamnya ialah orang yang menyelamatkan orang islam yang lain dari gangguan lidahnya dan tangannya dan orang yang berhijrah sebenarnya ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah". (Riwayat Bukhari)


Maimun ibn Mahran telah berkata: "Berzikrullah dengan lisan adalah baik, tetapi yang lebih baik ialah mengingati Allah dengan menghindari perbuatan maksiat."

Imam Hasan al-Basri pula telah berkata: "Ibadah yang paling utama dilakukan oleh seseorang ialah meninggalkan perkara-perkara yang dilarang oleh Allah."

Wallahu a'lam.

Penemuan Bahtera Nabi Nuh

Pembongkaran - Penemuan Bahtera Nabi Nuh (20 GAMBAR)

Kumpulan pengkaji dari China dan Turki yang bergabung dalam 'Noah's Ark Ministries International' pada 26 April 2010 mengumumkan bahawa mereka telah menemukan kapal @ Bahtera Nabi Nuh di Turki. Mereka mengenalpasti sisa-sisa perahu Nabi Nuh berada pada ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur.


Gambaran Bahtera Nuh di ambil dari udara pada Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur. Live Magazine, Sept.5, 1960

Disini tao akan menceritakan pasal Kajian yang dilakukan oleh team ini terhadap bahtera Nabi Nuh



"Kami belum yakin 100 peratus bahwa ini benar bahtera Nuh, tapi keyakinan kami sudah 99 peratus," kata salah satu anggota team yang bertugas membuat pengambaran dokumentari, Yeung Wing, seperti dimuat dari halaman berita Turki, National Turk, 27 April 2010.
Menurut kumpulan penyelidik tersebut, specimen yang mereka ambil memiliki usia karbon 4.800 tahun, dan agak tepat dengan timeline yang telah digambarkan dalam sejarah.

Menurut sejarah sekitar 4.800 tahun yang lalu, banjir besar berlaku di Bumi. dan menenggelamkan hampir separuh daratan dimuka bumi. Sebelum bencana mahadahsyat tersebut terjadi, Nabi Nuh nabi tiga agama, Islam, Kristian, dan Yahudi, telah diberi wahyu untuk membuat sebuah kapal besar demi menyelamatkan umat manusia dan makhluk Bumi lainnya.

Untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut, sekumpulan pengkaji dari China dan Turki yang tergabung dalam 'Noah's Ark Ministries International' selama bertahun-tahun mencari sisa-sisa bahtera legenda tersebut. Jika apa yang diperkatakan mereka benar, para peneliti Evangelis itu telah menemukan perahu paling terkenal dalam sejarah.

Kalau korang nak tau Penelitian ini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1949, dan pernah diperkatakan oleh Prof. Ron Wyatt bahwa Ia bersama kumpulan arkeologinya telah menemukan lokasinya dan melakukan penggalian pada tahun 1977.


RonWyatt , 1933-1999, di museum Gatlinburg Tennessee c. 1995 1995

September 1960

Ron Wyatt berusia 27 tahun ketika itu, bersama-sama dengan beribu-ribu orang lain, membaca rencana berikut dalam Majalah Life tentang pembentukan aneh berbentuk Kapal pada ketinggian kira-kira 6350 kaki, di pergunungan Ararat. Tidak di atas Gunung Ararat, tetapi di kaki gunung Ararat kira-kira 12 kilometer dari puncak Gunung. Ararat.



June/July 1985
Berikut ini awal penemuan oleh penelitian team antropologi yang dipimpin oleh Prof. Ron Wyatt.

1. Awal Penemuan

Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter)



Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat Tentera Nasional Turki menangkap gambar sebuah benda mirip kapal di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang dijangka perahu Nabi Nuh (The Noah’s Ark)

2. Gambar-gambar yang diambil pada tahun 1999-2000

Sesi pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun 1999-2000 tentang jangkaan adanya kapal di Gunung Ararat yang tertutup salji.



3. Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh
Photobucket

4. Kapal Nabi Nuh di atas Gunung Ararat.

5. Tapak Kapal Nabi Nuh sebelum dibersihkan

6. Pengukuran di Atas Tapak Bekas Kapal Nabi Nuh

7. Struktur Kapal Nabi Nuh menurut para arkeologi yang menjumpainyer

8.Gambaran suasana Kejadian
Dimana dalam tahun 1300 BC (Sebelum Masihi) terjadinya banjir yang besar. Lihat perbandingan ukuran Kapal Nabi Nuh dengan Pesawat Modern Jumbo 747.


Penelitian ini yang kemudian dilanjutkan oleh kelompok peneliti dari China dan Turki untuk membuktikan bahwa tapak tersebut memang merupakan sebuah kapal yang telah menjadi legenda dan adalah benar-benar berada di atas Gunung Ararat seperti yang telah dikatakan oleh Ron Wyatt sebelumnya.



Kumpulan yang beranggotakan 15 orang dari Hong Kong dan Turki hadir dalam konferens yang diadakan pada 26 April 2010 yang lalu.

Kepada media yang hadir sewaktu itu, mereka juga mempamerkan specimen fosil kapal yang dikatakan Kapal Nuh, seperti tali, paku, dan pecahan kayu.

Seperti yang dijelaskan para penyelidik, tali dan paku diduga digunakan untuk menyatukan kayu-kayu hingga menjadi kapal. Tali juga digunakan untuk mengikat haiwan-haiwan yang diselamatkan dari banjir besar , begitu juga dengan potongan kayu yang dibuat bersekat untuk menjaga kawanan haiwan-haiwan.

Penemuan besar ini jadi pelengkap untuk mendorong pemerintah Turki mendaftarkan tapak ini ke UNESCO agar lembaga PBB itu ikut menjaga kelestarian Kapal Nuh.

Cuaca yang sangat sejuk pada ketinggian 4.000 meter itu diyakini oleh para penyelidik dapat menjaga keadaan Kapal Nuh selama ribuan tahun.

Jika apa yang mereka temukan itu adalah benar sebuah bahtera yang pernah menjadi legenda dalam sejarah manusia, bukankah hal ini telah membuktikan kepada kita manusia bahwa pada zaman dahulu pernah terjadi bencana air banjir mahadasyhat yang menenggelamkan seisi bumi...?

Tanpa Nabi Nuh yang menyelamatkan haiwan-haiwan tersebut korang rasa masih adakah haiwan sampai sekarang yang kita masih dapat lihat pada masa ini.

Sumber:  fox, sun,wyattmuseum.com
kredit:  http://taotauajer.blogspot.com/

Kepantasan Malaikat Jibrail Terbang Berdasarkan Teori Fizik Moden

Ahli Fizik dari Mesir bernama DR. Mansour Hassab El Naby mengemukakan teori berdasarkan petunjuk Al Qur’an (Surah As Sajdah:5) kelajuan cahaya dapat dihitung dengan tepat sama dengan hasil pengukuran secara ilmu fizik modern (A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The Greatest Speed)
awan pelikgambar hiasan
Ilustrasi I
Berdasarkan QS As Sajdah ayat 5 :
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu
Secara jelas ayat tersebut memakai perbandingan bahawa satu hari sama dengan 1000 tahun, dihitung dengan cermat ternyata sama dengan kepantasan cahaya. Pertanyaannya kemudian, petunjuk ayat ini apakah sebagai penjelas atas petunjuk ayat dalam Al Qur’an yang lain?
Apakah kepantasan cahaya merupakan yang paling cepat di alam semesta ini seperti tanggapan manusia sekarang berdasarkan ilmu fizik modern? Dari beberapa ayat di dalam Al Qur’an disebutkan bahawa malaikat mempunyai
kepantasan terbang yang sangat cepat.
Seperti dalam Surah An Naazi´aat ayat 3-4
1. Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan
2. Dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya [1537]
3. Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang
Juga pada Surah Al Mursalat ayat 1-2 dijelaskan bahawa malaikat terbang dengan kencang atau cepat:
Bagaimana malaikat terbang? Malaikat dapat terbang kerana memiliki sayap, ada yang mempunyai 2, 3 atau 4 sayap.
Disebutkan pada Surah Faathir ayat 1 :
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dari penjelasan tersebut dapat lebih jelas bahawa yang mampu terbang dengan kepantasan tinggi adalah malaikat. Seberapa cepat terbangnya?
Petunjuk dalam ayat tersebut sangat jelas bahawa perbandingan kepantasan terbang malaikat adalah dalam sehari kadarnya 50,000 tahun. Berdasarkan kaedah penghitungan yang dilakukan DR. Mansour Hassab El Naby seperti dalam tulisannya bahawa untuk satu hari yang berkadar 1000 tahun sama dengan kepantasan cahaya (299,792.4989 km/saat).
Berdasar rumus-rumus dan cara yang sama untuk perbandingan sehari sama dengan 50000 tahun dapat diperoleh hasil perhitungan sama dengan 50 kali kelajuan cahaya (14,989,624.9442 km/saat).
Kesimpulannya adalah berdasarkan informasi dari Al Qur’an dapat dihitung kecepatan terbang malaikat dan Jibril yaitu 50 kali kelajuan cahaya!
Ilustrasi 2
Sampai saat ini pengetahuan manusia belum menemukan sesuatu pun yang mempunyai kelajuan melebihi kepantasan cahaya. Berdasarkan petunjuk Al Qur’an sangat jelas disebutkan bahawa malaikat dan Jibril mempunyai kemampuan terbang 50 kali kelajuan cahaya. Hal tersebut bisa dimaklumi kerana penciptaan malaikat berasal dari unsur cahaya (nuur). Suatu saat diharapkan ilmuwan muslim dapat meneliti petunjuk tersebut dan menjadi penemu yang selangkah lebih maju kerana berdasarkan Al Qur’an, kitab suci yang merupakan satu-satunya kitab yang tepat, berisi kepastian kerana merupakan Firman Allah SWT.
sumber: billyinfo.blogspot.com

Bagaimana Allah dan Malaikat bersalawat ke atas Nabi?


Setiap kali kita menunaikan solat Jumaat, kita akan sama-sama mendengar seruan bilal mengingatkan para makmum sebelum khatib berkhutbah dengan pelbagai ingatan. Antaranya yang kerap dituturkan ialah bacaan firman Allah Taala yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bersalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan)
kepada Nabi (Muhammad SAW); wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (Surah al-Ahzab : ayat 56)
Ayat yang di atas adalah ayat al-Quran, ayat itulah kebanyakan bilal di masjid seluruh Malaysia membacakannya. Akan tetapi makna salawat yang sebenarnya dalam tersebut, berbeza daripada satu ke satu yang lainnya. Salawat Allah ke atas Nabi Muhammad, tidak seperti salawat Para Malaikat. Dan salawat Para Malaikat ke atas Nabi SAW, tidak seperti salawat umat Muhammad ke atas Nabi mereka. Semuanya berlainan walaupun istilah asal masing-masing adalah “salawat”.
Salawat Allah ke atas Nabi Muhammad bukan dengan kata-kata seperti yang kita menyebut dalam ungkapan selawat yang terkenal. Salawat Allah ke atasnya bermaksud Allah Taala sentiasa memberikan kepadanya kebaikan dan kerahmatan daripada hidupnya hingga wafatnya dan sehingga pada hari-hari Baginda hidup dalam alam barzakh hinggalah ke hari kiamat. Inilah yang disebutkan dalam kitab Tafsir al-Qurtubi, juzuk 14, halaman 222 yang bermaksud, “Salawat daripada Allah adalah turunnya rahmat Allah dan keredaan-Nya kepada Nabi Muhammad sepanjang masa”.
Salawat daripada Para Malaikat bermaksud, “Para Malaikat sentiasa berdoa kepada Allah untuk kebaikan dan keampunan Nabi Muhammad SAW sepanjang zaman serta meredhainya. Ada pun salawat umat (kita) Muhammad kepada Baginda Nabi SAW adalah dengan menyebut salawat yang terkenal itu, yang di dalamnya mengandungi doa kepada Allah, agar Allah menurunkan rahmat dan kesejahteraannya kepada Baginda. Kita juga memohon agar Allah membesarkan dan memuliakan Nabi Muhammad sepanjang masa”.

Daripada tiga perbezaan jelas bahawa istilah salawat itu begitu unik. Ia boleh dipakai untuk tiga situasi yang berbeza. Pertama Allah. Kedua, malaikat dan ketiga, umat manusia. Yang penting kita menghayati dan memahami bahawa Rasulullah SAW itu makhluk istimewa pilihan Allah, yang Allah sendiri menjanjikan bahawa Allah sentiasa mencurahkan rahmat kepada Baginda, hari hidupnya, ke alam kuburnya sehinggalah ke hari akhirat.
Malah Para Malaikat seluruhnya sentiasa memohon kepada Allah Taala agar dilimpahkan rahmat dan keampunan-Nya kepada Rasulullah SAW. Di hujung ayat tersebut, selepas Allah dan malaikat berselawat ke atas Nabi Muhammad, maka Allah menyeru kita, orang-orang beriman supaya mengucapkan selawat dan salam yang makruf.
Baginda Rasulullah SAW bersabda (mafhumnya), “Sesiapa yang bersalawat ke atasku satu salawat, maka Allah merahmatinya dengan 10 rahmat.”
Oleh itu, ulama dalam memperhalusi persoalan selawat ke atas Nabi Muhammad itu wajib atau
sunat, tidak berlaku khilaf (perselisihan) daripada kalangan ulama, bahawa salawat ke atas Nabi Muhammad adalah wajib, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup. Dalam hidup seharian, bersalawat adalah sunat mu’akkad.
Sa’id Ibnu Musayyid meriwayatkan daripada Umar Al Khattab, beliau berkata, “Doa hamba kepada Allah tidak diangkat apabila tidak disebut selawat ke atas Nabi dalam doa itu. Apabila disebut salawat, barulah diangkat doa tersebut. Dan sesiapa yang menulis salawat ke atas Nabi dalam mana-mana penulisan (kitabnya), maka malaikat-malaikat terus bersalawat ke atas Nabi dan selama penulisannya itu kekal, maka selama itulah malaikat-malaikat mendoakan rahmat ke atasnya.”
sumber: blog.tarbawi.my, billyinfo.blogspot.com

Sebaik-baik Jin Adalah Sejahat-jahat Manusia?

BENARKAH? - Sebaik-baik Jin Adalah Sejahat-jahat Manusia?

Seringkali dicanang dan dimomokkan di dalam cerita seram yang ditayangkan di television bahawa sebaik-baik jin adalah sejahat-jahat manusia. Kenyataan ini meragukan kerana tidak pernah dinyatakan asas sandarannya daripada Al-Quran dan hadis. Bagaimanapun, ia seolah-olah sudah menjadi fakta yang diterima ramai sehingga penerbit filem seram berani menggunakan kenyataan di atas sebagai dialog yang digunakan di dalam filem mereka.
Asas pertama yang perlu dipegang apabila membicarakan perihal jin dan malaikat ialah keimanan kepada perkara ghaib. Oleh kerana alam jin adalah alam ghaib yang terhalang daripada alam nyata. Manusia tidak boleh berbicara tentang jin kecuali mengikut neraca Al-Quran dan Al-Sunnah.

Firman Allah ;
يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

Wahai anak-anak Adam! janganlah kamu diperdayakan oleh Syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapa kamu dari syurga, sambil ia menyebabkan terlucutnya pakaian mereka berdua untuk memperlihatkan kepada mereka: aurat mereka (yang sebelum itu tertutup). Sesungguhnya Syaitan dan kaumnya melihat kamu dengan keadaan yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu teman rapat bagi orang-orang yang tidak beriman.(Al-Araf :27)
Hanya kedua-dua sumber itu mampu menelah dan menembusi alam jin. Sesiapa sahaja yang ingin mengutarakan buah fikiran mengenai alam jin perlu terlebih dahulu merujuk Al-Quran dan Al-Sunnah supaya umat Islam tidak berpegang kepada asas yang rapuh, tidak berasas atau disuap dengan fakta karut dan khurafat yang tidak banyak membina iman dan minda.
Kenyataan yang terlalu umum “sebaik-baik jin adalah sejahat-jahat manusia” ini secara tidak langsung akan menzalimi sebahagian jin Islam yang dipuji Allah SWT dan disebut kisah mereka di dalam Al-Quran. Mereka ialah generasi awal jin Islam yang bertanggungjawab menyebarkan Islam kepada makhluk jin kerana jin dan manusia mempunyai tanggungjawab agama dan akan dihisab di akhirat kelak (Al-Rahman [55:31-36]).
Generasi awal jin Islam yang disebut kisah mereka dalam Al-Quran ini selayaknya digelar sahabat nabi kerana memenuhi ciri serta takrifan para ulama hadis iaitu sesiapa sahaja yang bertemu dan beriman dengan Nabi Muhammad SAW.
Sekiranya kenyataan “sebaik-baik jin adalah sejahat-jahat manusia” ini terus dipegang, kita secara tidak langsung akan menghukum para sahabat Nabi Muhammad SAW jauh lebih jahat daripada manusia, sedangkan para ulama sepakat mengatakan para sahabat adalah adil dan baik.

Generasi awal jin ini juga diiktiraf sebagai rasul atau utusan pendakwah dalam kalangan mereka.

Firman Allah:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“Wahai sekalian jin dan manusia! Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul daripada kalangan kamu sendiri, yang menyampaikan kepada kamu ayat-ayatKu (perintah-perintahKu), dan yang memberikan amaran kepada kamu tentang pertemuan kamu dengan hari (kiamat) ini?”)

(Al-An’am : 130)

Hakikatnya, para rasul hanya diutus dalam kalangan manusia. Namun begitu, rasul dari kalangan jin dalam ayat ini adalah wakil kepada rasul atau pendakwah dari kalangan jin yang mendengar bacaan Al-Quran yang dibaca oleh Nabi Muhammad SAW(Tafsir al-Razi). Kisah mereka ini boleh didapati di dalam Al-Quran.
Sebuah hadis turut merekodkan baginda Rasulullah SAW pernah memuji para sahabatnya dari golongan jin yang begitu sensitif terhadap Al-Quran. Baginda pernah membacakan surah Al-Rahman dari awal sehingga akhir kepada para sahabat. Selain itu, para ulama hadis seperti Imam Ibn Hajar Al-Asqalani tidak ketinggalan menyenaraikan nama golongan awal jin bersama nama para sahabat nabi yang lain. Antara nama yang disebut adalah Zawba’ah, Al-Adras, Hasir, Khasir dan sebagainya (Al-Isabah fi Ma’rifat aAl-Sahabah).
Mungkin ada segelintir pihak cuba mempertahankan kenyataan meragukan tersebut dengan mengatakan bukti harian jelas menunjukkan jin banyak melakukan kerosakan dan kebiadapan terhadap manusia. Banyak sekali hasutan dan rasukan berlaku yang memporak perandakan hidup manusia. Sebenarnya kejahatan serta kebiadapan itu tidak hanya berpunca daripada jin, bahkan ia juga berpunca daripada kejahatan manusia.

Firman Allah SWT:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٤١)قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ (٤٢)فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

“Telah timbul berbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia, (timbulnya yang demikian) kerana Allah SWT hendak merasakan mereka sebahagian daripada balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat).”
Katakanlah: “Mengembaralah kamu di muka bumi ini, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang telah lalu (yang telah dibinasakan). Kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik.”
(Al-Rum : 41-42)
SUMBER : Utusan

Balasan SYURGA yang teramat INDAH

Balasan SYURGA yang teramat INDAH

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, baginda bersabda: Allah berfirman: "Aku telah menyediakan untuk hambaKu yang soleh, apa yang belum pernah mata melihat, belum pernah telinga mendengar dan belum pernah teringat (terlintas) dalam hati manusia."

Balasan SYURGA yang teramat INDAH
Huraian Hadith:
Hidup adalah satu perjuangan yang ada pahit dan getirnya. Ini berpadananlah dengan balasan syurga yang teramat indah bagi mereka yang telah berjaya menghadapi segala ujian Allah itu. Ingatlah. Tiada permaidani merah untuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman di mana dengan cabaran dan ujian getir yang diberikan itu akan menjadikan keimanan seseorang semakin bertambah kerana nilaian Allah amat tinggi buat hamba-NYA iaitu mereka yang sanggup berkorban nyawa, harta dan tenaga demi agama-NYA.

Sumber: jakim (Balasan SYURGA yang teramat INDAH).